Pemikiran Syekh Al Utsaimin Dalam Memelihara Persatuan Ummat

October 5, 2008 at 1:33 am | Posted in ARTIKEL | Leave a comment

Dalam memahami dan memperjuangkan Islam sekarang ini, ummat Islam terpolarisasi dalam beberapa kelompok, jama’ah, organisasi, yayasan, lembaga dan harakah.

Sebutlah yang terbesar dan terkenal sebagaimana yang disebutkan sebagian dalam buku “Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Ad-Yaan wa Al-Madzahib Al Mu’ashirah” yang diterjemahkan oleh A. Najiyulloh kedalam bahasa Indonesia dengan “Gerakan Keagamaan dan Pemikiran”(Akar Idiologis dan Penyebarannya) antara lain adalah: Al-Ikhwan Al Muslimun, Jama’ah At-Tabligh, Hizb Al-Tahrir, Jama’at Islami, Jama’ah Al Anshar Al-Sunnah Al Muhammadiyah, Jama’ah Salafiyyah, Yayasan Al Haramain Al Khairiyyah, Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah. Itu dalam tataran dunia, sedangkan dalam skop nasional di Indonesia, adalah Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Al Irsyad, Persis, Wahdah Islamiyah, Islam Jama’ah (LDII), Jaringan Islam Liberal (JIL) dan lain-lain.

Kelompok-kelompok dan jama’ah-jama’ah ini jika tidak terarahkan dengan baik dan bijak oleh pemimpin-pemimpinnya, maka sangat rentan terjadinya konflik. Memahami kondisi realitas ummat Islam seperti yang digambarkan di atas, maka dunia Islam sangat merindukan lahirnya sosok Ulama (cukup mapan dalam ilmu syar’i) yang kharismatik dan bijaksana dalam mengarahkan dan mengayomi ummat ini menuju persatuan.

Disisi inilah peran sosok Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala, seorang Ulama di jazirah lahirnya Islam Saudi Arabia, beliau adalah Ulama dan Da’i yang sangat terkenal di dunia Islam, sangat gigih dan tekun berda’wah, berfatwa serta menyebarkan ilmunya kepada ummat.

Beliau tergolong Ulama yang hidup di abad kebangkitan Islam (abad 14 Hijriyah) bersama beberapa Ulama lainnya yang terkenal, seperti Syekh Abdul Aziz Bin Baz dan Syekh DR.Yusuf Al-Qardhawy. Sekalipun ummat cinta dan masih sangat butuh kehadirannya, namun Allah Azza Wajalla lebih mencintainya dan memanggil keharibaanNya pada tahun 1421 H/ 2001 M di usia 74 tahun.

Salah satu karya beliau yang paling banyak memuat pemikiran-pemikiran tentang persatuan Ummat adalah Al Shahwah Al Islamiyah, Dhawabit Wa Taujihaat , diantara pemikiran-pemikiran itu adalah sebagai berikut:

1. Tatkala beliau ditanya tentang fenomena di sebagian negara-negara kaum muslimin dengan adanya berbagai partai dan jama’ah Islam, seperti Jama’ah Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Salafiyyun, Jama’ah Tabligh dan yang lainnya. Dan masing-masing jama’ah saling merendahkan dan mencela saudaranya, bahkan terkadang mengkafirkan dan menghukum fasiq satu sama lain. Maka beliau memberikan penjelasan sebagai berikut:
Sangat disayangkan sekali bila kita melihat saudara kita kaum muslimin terdapat ekstrimitas dalam memegang madzhab yang mereka jalani, karena ummat Islam berkewajiban menjadi ummat yang satu. Allah berfirman dalam

[Q.s.al-Mu’minuun,23: 52]

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”

Allah juga berfirman kepada Nabi dalam Q.s.al-An’am, 6:159 sebagai berikut:

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”

Allah selanjutnya berfirman dalam Q.s.al-Syura,42:13, yang artinya :

“Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”

Maka inilah dasar Islam : yaitu agar umat Islam itu bersatu di atas agama Allah. Adapun perpecahan yang berkonsekwensi penyesatan atau pemfasikan atau pengkafiran orang lain ini, sama sekali tidak dibolehkan.
Dan saya katakan : Setiap insan itu mungkin terjatuh dalam kesalahan,

“Setiap bani Adam adalah suka berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang sering berbuat kesalahan adalah yang banyak bertaubat.”

(HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad Darimy yang dihasankan oleh Syekh Al Al-Bany dalam Shahihul Jami’).

Artinya adalah orang-orang yang bertaubat dari kesalahan mereka. Sehingga jika kita melihat ksalahan dari salah satu jama’ah itu maka kewajiban atas kita adalah membicarakannya dengan mereka sampai kita dan mereka bersepakat di atas kalimat yang sama serta menjelaskan kesalahan ini. Dant idak menjadikan kesalahan ini sebagai jalan untuk mencela mereka dan memperingatkan (tahdzir) manusia (untuk mengambil faidah) dari mereka.
Jama’ah-jama’ah yang disebutkan oleh sang penanya itu haruslah menjadi satu jama’ah (yang berjalan di atas) Kitabullah dan Sunnah RasulNya, sebagaimana Nabi bersabda, yang artinya:

“Orang mukmin itu bagi orang mukmin lainnya laksana sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Sehingga yang kurang disempurnakan oleh yang telah sempurna, dan yang kurang hendaknya berterima kasih kepada yang telah sempurna jika ia menjelaskan kesalahannya.

Adapun jika (yang terjadi justru) saling membuat orang lari antara satu sama lain, saling mencela satu sama lain dan saling memfasikkan satu dengan yang lain, maka ini menyelisihi apa yang dibawa oleh Islam.
Anda sekalian mengetahui bahwa Islam memerangi setiap apapun yang dapat mengakibatkan perceraiberaian dan perpecahan. Nabi bersabda :

“Janganlah kalian saling membenci dan janganlah saling membelakangi dan jangan saling menawar barang yang telah ditawar oleh yang lain, dan janganlah kalian membeli barang yang telah dibeli oleh orang lain, dan jadilah kalian para hamba Allah yang bersaudara (karena) seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain.”
(HR.Muslim dari Abu Hurairah) Inilah jalan Islam yang harus dijalani oleh kaum muslimin.

Saya juga mengatakan : jama’ah-jama’ah ini harus saling merujuk di antara mmereka serta menjelaskan kepada yang lain jika ia salah dan mengajaknya berdiskusi dalam masalah itu. Karena bisa jadi kesalahan justru ada pada orang yang memandang (saudaranya) salah. Sehingga kita dapat menjadi umat yang satu saling mencintai, menyayangi, menolong dan saling menyempurnakan satu dengan yang lain.

2. Beliau juga berpendapat bahwa tidak sepantasnya ummat dipecah-belah dengan mengatakan ini Ikhwani, ini Tablghi dan ini adalah Salafi . Beliau menyalahkan para aktifis yang berbuat seperti itu.

3. Pada saat yang lain beliau ditanya tentang sikap terhadap Jama’atut Tabligh (beberapa aktifis pemuda menghukum sesat dan ahlul bid’ah), yang menjalankan da’wah kepada Allah namun para pengikutnya pada akhirnya dibawa kepada ajaran tasawwuf dan memberikan bai’at kepada sang amir serta membaca dzikir-dzikir yang bersifat bid’ah.

Beliau menjawab:
“Sikap seorang penuntut ilmu terhadap da’wah yang lahiriyahnya menunjukkan keshalihan dan perbaikan, hendaknya menyambutnya selama lahiriahnya menunjukkan kebaikan, akan tetapi ia berkewajiban memperbaiki kesalahan yang terdapat di dalamnya serta menjelaskan kekeliruan yang ada di dalamnya.

Diantaranya adalah kewajiban memba’iat salah seorang dari mereka jika menjadi amir dan bukan waliyul amri.Adapun mengangkat salah satu dari mereka sebagai amir jika mereka keluar dari sebuah rihlah atau keluar dalam suatu perjalanan maka hal ini adalah termasuk ajaran syari’ah, karena Rasulullah telah memerintahkan mereka yang dalam perjalanan – dan mereka dalam keadaan berjamaah – untuk mengangkat amir bagi mereka, karena sebuah jama’ah tanppa ada seseorang yang mengarahkan dan mengatur niscaya urusannya akan menjadi kacau.

Sebagaimana dikatakan oleh penyair :
“Tidak dibenarkan manusia itu kacau tanpa ada yang memimpin mereka.”

Adapun mengangkat seorang pemimpin yang mereka bai’ati sebagai waliyul amri mereka dan bukan waliyul amri yang telah diwajibkan untuk mena’atinya oleh Allah, dan yang telah diwajibkana tas kita untuk loyal dan menolongnya dalam Al-Haq, maka hal itu tidak dibolehkan.

Memang terdapat orang-orang berda’wah ke jalan Allah yang lahiriahnya shalih namun mereka memiliki sisi yang menyimpang dari yang dibawa Nabi, maka mereka harus kita manfaatkan seperti keluar bersama mereka, menyertai dan melihat apa yang mereka lakukan, apabila kita menemukan mereka berada di atas kebatilan, kita pun menjelaskannya kepada mereka. Jika mereka mendapat petunjuk kepada Al-Haq dan kembali kepadanya maka inilah yang kita inginkan. Namun jika mereka bersikeras atas apa yang mereka jalani maka wajib menjauhi mereka serta menjelaskan kepada umat tentang kesesatan yang mereka jalani agar manusia tidak tertipu dengan penampilan lahirian mereka.”

4. Beliau tidaklah berarti latah dalam membela jama’ah-jama’ah da’wah yang dicela tetapi tetap istiqamah juga didalam menasihati dan mengeritik jama’ah-jama’ah tersebut. Hal ini bisa dilihat dari nasihat dan kritikan beliau terhadap Jama’ah Tabligh dalam beberapa hal, antara lain:

a. Kurangnya ilmu pada kebanyakan pengikut-pengikutnya, karena mempelajari/membaca satu kitab saja (Fadhail Al A’mal) padahal banyak kitab yang penting yang harus dibaca dan dipelajari yang merupakan warisan para Ulama.

b. Mereka pergi keluar negeri, kepada kaum yang merupakan pelaku khurafat, dan bahwa pemimpin rombongan ini ada yang terjatuh dalam perbuatan khurafat itu.

c. Mereka memandang bahwa keutamaan jihad fi sabilillah dapat dicapai dengan khuruj , hal ini adalah sesuatu yang tidak benar, karena ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang jihad fi sabilillah tidak lain dimaksudkan untuk jihad melawan orang-orang kafir. Adapun jihad fi sabilillah dengan khuruj dapat dikategorikan fi sabilillah secara umum, karena sabilillah digunakan untuk dua makna, umum dan khusus. Sehingga nash-nash yang menyebutkan tentang keutamaan para syuhada’, keutamaan pedang dan infaq untuk jihad itu tidak lain dimaksudkan untuk jiad yang berupa perang melawan musuh-musuh.

5. Syekh Al Utsaimin juga banyak memberikan nasihat dan arahan kepada para aktifis Islam untuk bersabar menghadapi berbagai serangan maupun tudingan. Diantaranya beliau bernasihat:

”Tidak mungkin kita menyumbat mulut manusia. Maka setiap harakah Islamiyah dan kebangkitan pastilah akan dilawan oleh orang yang tidak menghendaki kebenaran, karena Allah telah berfirman dalam kitabnya di surat Al Furqan (25):31,
yang artinya:

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.”

Dan ambillah contoh yang dekat: Dahulu Rasulullah sebelum diberi wahyu bersama dengan kaum Quraisy dalam posisi aman dan dipercaya, namun ketika Allah mewahyukan kepadanya beliaupun berubah (dituduh) menjadi seorang pendusta yang gila dan penyair, dan merekapun melempari beliau dengan segala macam aib.

Maka setiap harakah dan kebangkitan Islamiyah pasti akan mempunyai musuh-mush yang akan menegakkan perlawanan. Maka saya tidak bisa mengatakan bahwa fenomena ini dapat diberantas, akan tetapi saya (hanya dapat) mengatakan: hendaknya para pendukung kebaikan senantiasa bersabar dan berihtisab (mengharapkan pahala) serta membela diri sesuai dengan kemampuan, dan tentu saya menginginkan agar mereka berada dalam posisi yang kuat.”

sumber: http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=573&Itemid=193

kredit: http://www.al-fikrah.net

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: